SeputarDesa.com, Jombang – Pemerintah Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben, menggelar kegiatan Sambung Rasa Pertanian dalam rangka penutupan Sekolah Lapang Pertanian (SLP) Tahun 2025, peresmian pembangunan halaman teras Gubuk Tani, serta dialog seputar pertanian dan pembangunan desa, pada Rabu malam, 24 Desember 2025, bertempat di Gubuk Tani Desa Podoroto.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Podoroto Adhim, Ketua BPD Podoroto M. Irwani Nasirul Umam, Babinsa Desa Podoroto Serma Yusron, Koordinator BPP Kecamatan Kesamben Anasrul Hakim, S.P.,Ketua Gapoktan Rifki ArifS.T., perangkat desa, pendamping pertanian, kelompok tani, tokoh masyarakat, serta warga Desa Podoroto.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Desa Podoroto juga meresmikan pembangunan halaman teras Gubuk Tani yang menelan anggaran sebesar Rp75 juta, dan difungsikan sebagai pusat kegiatan, edukasi, serta dialog pertanian desa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pra-acara berupa pagelaran live musik akustik dari grup musik Mantraloka Kediri. Acara inti dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pagelaran tari Wayang Topeng Kelono Jatiduwur oleh Sanggar Tari Jatiduwur, yang menggambarkan kuatnya keterkaitan antara budaya lokal dan tradisi pertanian masyarakat Desa Podoroto.

Setelah itu, panitia memutar video dokumentasi kegiatan Sekolah Lapang Pertanian Tahun 2025 yang menampilkan proses pembelajaran dan praktik lapangan para petani. Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi wiwit panen padi yang dirangkai dengan peresmian pembangunan halaman teras Gubuk Tani.
Doa wiwit dipimpin oleh Ki Budi Sejati, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan gunungan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas hasil pertanian.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Podoroto, Adhim, menyampaikan bahwa kegiatan Sambung Rasa Pertanian merupakan momentum evaluasi sekaligus penguatan komitmen desa dalam membangun sektor pertanian berbasis kearifan lokal.
“Sekolah Lapang Pertanian ini bukan sekadar kegiatan belajar teknis, tetapi ruang berbagi pengalaman antarpetani. Kami berharap Gubuk Tani dapat menjadi pusat inovasi, diskusi, dan pengembangan pertanian Desa Podoroto,” ujar Adhim.

Sementara itu, Koordinator BPP Kecamatan Kesamben, Anasrul Hakim, S.P., mengapresiasi langkah Pemerintah Desa Podoroto yang dinilai mampu mengintegrasikan pendampingan pertanian dengan penguatan kelembagaan petani.
“Sekolah lapang yang disertai dukungan fasilitas seperti Gubuk Tani akan membuat proses pendampingan lebih efektif. Sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah desa menjadi kunci keberhasilan pembangunan pertanian,” ungkap Anasrul Hakim, S.P.
Di sela-sela acara, Ketua Gapoktan Desa Podoroto, Rifki Arif, S.T., menyampaikan kepada redaksi bahwa pelaksanaan Sekolah Lapang Pertanian Tahun 2025 memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas petani.
“Sekolah lapang ini sangat membantu petani karena pembelajarannya langsung praktik di lapangan. Petani jadi lebih paham, lebih percaya diri, dan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih baik,” kata Rifki Arif, S.T.

Ia menambahkan, peresmian halaman teras Gubuk Tani menjadi langkah strategis dalam memperkuat konsolidasi dan peran Gapoktan di tingkat desa.
“Dengan adanya fasilitas Gubuk Tani yang representatif, koordinasi dan musyawarah antarpetani akan semakin mudah. Ini mendukung upaya kami dalam mendorong pertanian desa yang mandiri dan berkelanjutan,” tambahnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi Sambung Rasa dan Dialog Pertanian yang dipandu oleh moderator Arif Hakim.
Agus Mujiono, S.P., Direktur PDP Pangklungan, hadir sebagai pembicara pertama dengan tema “Tradisi Budaya Pertanian Jawa dalam Konteks Kajian Ilmiah”.
“Tradisi pertanian Jawa mengandung nilai ekologis dan ilmiah yang lahir dari pengalaman panjang petani. Nilai-nilai tersebut relevan untuk menjawab tantangan pertanian modern,” jelas Agus Mujiono, S.P.
Pembicara kedua, Albertus Agung Vidi Susanto, seorang arkeolog, memaparkan materi bertema “Sejarah Pertanian Masa Klasik”.
“Sejak masa klasik, masyarakat Nusantara telah memiliki sistem pertanian dan pengelolaan air yang maju. Pengetahuan ini penting sebagai referensi pengembangan pertanian berbasis kearifan lokal,” ungkap Albertus.
Melalui kegiatan Sambung Rasa Pertanian ini, Pemerintah Desa Podoroto berharap terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah desa, petani, penyuluh, dan akademisi, serta menjadikan Gubuk Tani Desa Podoroto sebagai pusat edukasi, budaya, dan pengembangan pertanian yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














