SeputarDesa.com, Sidoarjo – Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, mendesak Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) agar segeramencari solusi konkret dalam menangani luberan lumpur yang terjadi di titik P10D sejak Jumat (10/7/2026). Titik luberan tersebut berada di sisi utara dan barat pusat semburan yang berlokasi sangat dekat dengan jalur rel kereta api serta jalan raya Porong.
Desakan ini disampaikan Wabup Mimik saat menyambut kedatangan anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, dalam peninjauan lapangan di kawasan tanggul lumpur Sidoarjo, Senin (13/7/2026). Turut mendampingi dalam tinjauan tersebut Kepala Satuan Kerja Nonvertikal Tertentu (SNVT) PPLS Mahdani dan Ketua Tim Perencanaan Teknik PPLS Arif Firmanto.
Tanggul Alami Penurunan Tanah dan Ancam Jalur Vital
Wabup Mimik Idayana menegaskan bahwa keselamatan warga Sidoarjo merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Ia tidak ingin musibah dan dampak bencana lumpur yang terjadi 20 tahun silam kembali terulang dan membahayakan warga di sekitar kawasan terdampak.
“Segera carikan solusinya dan selesaikan agar wargaku selamat. Karena apa? Warga yang tertimpa bencana 20 tahun kemarin itu belum selesai, jangan sampai terulang. Segera carikan solusinya, itu harapan saya,” ucap Mimik.
Senada dengan hal tersebut, anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, memperingatkan bahwa lambannya penanganan luberan di jalan nasional ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi melumpuhkan roda perekonomian Jawa Timur hingga nasional karena menghambat jalur logistik dan transportasi publik. Ia meminta agar volume pembuangan air lumpur ke Sungai Porong dipercepat dan dinding tanggul diperkuat, serta mendesak Pemkab Sidoarjo agar segera merealisasikan early warning system (sistem peringatan dini) bagi ratusan ribu warga di zona rawan.
Faktor Geologi dan Penanganan Darurat PPLS
Sementara itu, Ketua Tim Perencanaan Teknik PPLS, Arif Firmanto, menjelaskan bahwa luberan dipicu oleh penurunan muka tanah (subsidence) di area tanggul yang rata-rata mencapai setengah meter per tahun. Kondisi geologi Sidoarjo sebagai daerah endapan sedimen dengan daya dukung tanah rendah yang dipengaruhi oleh dua patahan aktif yakni Sesar Siring dan Sesar Watukosek membuat struktur tanggul rentan.
Kendati demikian, Arif memastikan volume semburan saat ini justru jauh menurun dibanding 20 tahun lalu, di mana volume awal sempat mencapai 100.000 hingga 120.000 meter kubik per detik, sedangkan saat ini berkisar di angka 27.000 hingga 32.000 meter kubik per hari. Sebagai langkah penanggulangan awal, PPLS saat ini sedang menerjunkan alat berat guna melakukan peninggian darurat pada tanggul yang mengalami kebocoran setinggi sekitar 1 meter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















