SeputarDesa.com, Brebes – Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK) Korwil IV Cisanggarung Hilir menggelar pertemuan silaturahmi bertajuk “Ngobrol Bareng” di Bangunan Bantarsari, Sabtu (19/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memvalidasi data mitigasi kekeringan sekaligus memperkuat koordinasi pengelolaan dan ketersediaan air di wilayah Daerah Irigasi Jengkelok.
Kegiatan dihadiri Kepala Bendungan Cibendung, Kang Nano, serta seluruh pengurus Unit Pengelola Irigasi (UPI) yang berada di wilayah Daerah Irigasi Jengkelok.
Perwakilan Korwil IV Cisanggarung Hilir, Ruswan, menegaskan bahwa pemantauan ketersediaan air tidak cukup hanya dilakukan pada saluran sungai utama. Kondisi saluran sekunder hingga tersier juga perlu dipantau dan didata secara menyeluruh.
Menurutnya, kelengkapan data dari seluruh jaringan irigasi menjadi penting untuk memastikan langkah mitigasi kekeringan dapat dilakukan secara tepat, khususnya saat Musim Tanam III yang berlangsung bersamaan dengan musim kemarau dan kondisi iklim yang dipengaruhi El Nino.
“Meski fokus utama pada saluran sungai, monitoring dari saluran sekunder dan tersier tetap perlu didata secara lengkap. Tujuannya agar mitigasi kekeringan di Musim Tanam III ini bisa diantisipasi dengan baik di tengah musim kemarau dan pengaruh El Nino,” ujar Ruswan.
Sementara itu, Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Kemantren Bantarsari, Kang Asep, menyampaikan apresiasi atas ketersediaan pasokan air yang mendukung aktivitas pertanian masyarakat.

Ia mengatakan, pada Musim Tanam III tahun ini, areal pertanian di wilayah Kemantren Bantarsari seluas lebih dari 300 hektare masih dapat ditanami padi.
“Alhamdulillah, di Musim Tanam III ini areal Kemantren Bantarsari seluas lebih dari 300 hektare dapat ditanami padi. Semua ini berkat pasokan air dari Bendungan Kuningan,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut juga ditekankan pentingnya validasi data yang berasal dari tingkat bawah. Data yang disampaikan melalui GP3A akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan kondisi lapangan dan kebutuhan pengelolaan air.
Data tersebut selanjutnya dipastikan kebenarannya bersama pihak-pihak terkait agar perencanaan distribusi dan pengelolaan air dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran, terukur, dan akuntabel.
Koordinasi antara pengelola irigasi, GP3A, UPI, serta pihak terkait dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi kekeringan, terutama ketika kebutuhan air pertanian meningkat di tengah musim kemarau.
Melalui kegiatan “Ngobrol Bareng” tersebut, pengelola berharap komunikasi dari tingkat lapangan hingga pengambil kebijakan dapat berjalan lebih efektif sehingga persoalan ketersediaan air dapat diantisipasi sejak dini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















