SeputarDesa.com, Tidak ada yang mengira sebuah penyakit yang dianggap telah lenyap dari Eropa akan kembali muncul di sebuah rumah sakit di Rumania. Lebih mengejutkan lagi, dua pasien yang terdiagnosis kusta itu bukan penduduk lokal, melainkan pekerja migran asal Indonesia. Bagi otoritas kesehatan setempat, temuan ini menjadi kasus pertama dalam lebih dari empat dekade. Bagi dunia, ini adalah pengingat pahit: kusta belum benar-benar pergi. Bagi kedua pasien tersebut, diagnosis itu bukan sekadar persoalan medis. Ia datang bersama rasa takut, ketidakpastian, dan stigma yang sudah berabad-abad melekat pada nama penyakit ini. Kusta, yang dalam imajinasi publik sering diasosiasikan dengan masa lalu, pengasingan, dan kutukan, tiba-tiba hadir di tengah realitas global yang serba modern dan bergerak cepat.
Kasus ini bukan anomali yang berdiri sendiri. Ia adalah simpul dari banyak persoalan yang saling terhubung: migrasi tenaga kerja, ketimpangan layanan kesehatan, lemahnya deteksi dini, serta stigma sosial yang terus hidup meski ilmu pengetahuan telah jauh berkembang. Kusta adalah penyakit yang tidak datang dengan gegap gempita. Ia bergerak perlahan, sering tanpa rasa sakit, dan kerap disalahartikan sebagai gangguan kulit biasa. Secara medis, kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Penularannya tidak mudahdibutuhkan kontak erat dan waktu yang panjang. Namun justru karena sifatnya yang lambat itulah kusta sering terlambat dikenali.
Banyak pasien baru menyadari ketika mati rasa mulai menjalar di ujung jari, atau ketika bercak di kulit tak lagi merespons sentuhan. Pada titik itu, penyakit sering kali sudah berjalan cukup lama. Keterlambatan diagnosis inilah yang membuka ruang bagi komplikasi, termasuk kecacatan permanen. Padahal, dunia medis telah lama memiliki solusi. Terapi multidrug (MDT) mampu menyembuhkan kusta secara efektif. Pasien yang menjalani pengobatan teratur akan berhenti menularkan penyakit dan dapat pulih sepenuhnya. Namun fakta ilmiah ini tidak selalu sejalan dengan persepsi sosial.
Dari Indonesia ke Eropa
Dalam kasus di Rumania, otoritas kesehatan setempat memastikan bahwa kedua pekerja migran Indonesia tersebut tertular sebelum mereka berangkat ke Eropa. Masa inkubasi kusta yang panjangbisa mencapai bertahun-tahunmembuat penyakit ini seolah “menumpang” dalam perjalanan manusia lintas negara. Kasus ini segera menarik perhatian internasional. Rumania, yang telah lama bebas dari kusta, kembali harus mengaktifkan protokol kesehatan untuk penyakit yang selama ini hanya mereka kenal dari buku teks. Sementara itu, Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: kusta masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang belum tuntas.
Migrasi tenaga kerja menjadi lensa penting dalam memahami kasus ini. Pekerja migran sering berada dalam posisi rentan. Akses terhadap layanan kesehatan terbatas, skrining kesehatan tidak selalu menyeluruh, dan ketakutan kehilangan pekerjaan membuat banyak keluhan kesehatan dipendam. Dalam situasi seperti ini, penyakit kronis yang tidak menimbulkan gejala berat di awal menjadi sangat mudah terlewatkan.
Indonesia dan Kusta yang Belum Selesai
Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus kusta tertinggi di dunia. Setiap tahun, ribuan kasus baru masih ditemukan, dan sebagian di antaranya terjadi pada anak-anakindikator bahwa penularan masih berlangsung aktif di masyarakat. Sebaran kasus tidak merata. Wilayah dengan tantangan geografis, keterbatasan fasilitas kesehatan, dan tingkat kemiskinan yang tinggi cenderung melaporkan angka lebih besar. Di daerah-daerah ini, kusta tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga cermin ketimpangan sosial yang lebih luas.
Dampak yang Melampaui Tubuh
Kusta tidak hanya menyerang saraf, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi penderitanya. Kerusakan saraf dapat menyebabkan mati rasa, luka berulang, dan kecacatan. Namun dampak sosial sering kali lebih menghancurkan. Banyak penyintas kusta kehilangan pekerjaan atau kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Diskriminasi membuat mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
Dalam konteks pekerja migran, dampaknya bisa berlipat ganda. Status sebagai pendatang, keterbatasan jaringan sosial, dan ketergantungan pada pekerjaan membuat mereka semakin rentan. Diagnosis kusta bisa berarti kehilangan mata pencaharian dan masa depan.
Jalan Keluar yang Realistis
Mengakhiri kusta bukan perkara utopis, tetapi membutuhkan langkah konkret dan berkelanjutan. Deteksi dini harus diperkuat, terutama di daerah endemis dan pada kelompok rentan seperti pekerja migran. Edukasi publik perlu dilakukan secara konsisten untuk membongkar mitos dan ketakutan. Di tingkat kebijakan, pendekatan lintas sektor menjadi kunci. Perlindungan hak pasien dan penyintas harus menjadi bagian dari strategi pengendalian. Media dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi mereka yang terdampak. Yang tidak kalah penting, kusta harus kembali dibicarakanbukan sebagai momok, tetapi sebagai persoalan kesehatan dan keadilan sosial yang bisa dan harus diselesaikan.
Kasus dua pekerja migran Indonesia di Rumania adalah cermin yang memantulkan banyak hal sekaligus: kemajuan ilmu kedokteran, kegagalan sosial, dan tantangan globalisasi. Ia mengingatkan bahwa penyakit lama bisa bertahan bukan karena kekuatan biologisnya, tetapi karena kelemahan kolektif kita dalam menghadapi stigma dan ketimpangan. Kusta bisa disembuhkan. Itu fakta medis. Yang belum sepenuhnya sembuh adalah cara kita memandang mereka yang pernah mengidapnya. Selama stigma masih hidup, selama deteksi dini masih tertinggal, dan selama penyakit ini dibiarkan menghilang dari kesadaran publik, kusta akan selalu menemukan jalan untuk kembalimenyeberangi pulau, negara, bahkan benua.
“Bakterinya mati oleh obat, tapi stigma hidup dari bisik-bisik”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














