banner 970x250
Berita

Dua Akademisi Bedah “Ronggeng Dukuh Paruk” dalam Diskusi Sastra UINSA

×

Dua Akademisi Bedah “Ronggeng Dukuh Paruk” dalam Diskusi Sastra UINSA

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com,  Surabaya Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), menggelar diskusi sastra awal tahun 2025 yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Sastra Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Kampus 2 UINSA, Gunung Anyar, itu menghadirkan dua narasumber dari dua lembaga berbeda, serta diikuti terutama oleh mahasiswa baru angkatan 2025 dan peserta umum.

Pemateri pertama, Mashuri, peneliti BRIN yang dikenal dalam kajian filologi, mengajak audiens menelusuri bagaimana tradisi, ingatan kolektif, dan jejak kebudayaan lokal membentuk struktur cerita Ronggeng Dukuh Paruk. Menurut dia, novel karya Ahmad Tohari itu tak berdiri sendiri, melainkan ditopang lapisan-lapisan pengetahuan lokal yang sering luput dipertimbangkan pembaca modern.

Baca Juga :  Perkuat Lereng Pegunungan, TNI dan Masyarakat Hijaukan Tosari

Sementara itu, pemateri kedua, Yoga, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menyoroti novel yang sama melalui pendekatan sosiologi sastra. Ia menekankan relasi antara latar sejarah, perubahan sosial, dan pergeseran nilai yang memengaruhi perjalanan hidup tokoh-tokohnya. “Karya ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa menangkap guncangan politik dan moral pada masanya,” ujarnya.

Diskusi dipandu oleh M. Hikmal Yazid, S.S., alumnus Sastra Indonesia UINSA angkatan 2021. Di bawah arahannya, percakapan bergerak dinamis, memadukan sudut pandang filologi dan sosiologi sastra. Para peserta mendapat gambaran bagaimana satu teks dapat dibaca melalui dua pendekatan yang saling melengkapi.

Baca Juga :  Launching Konservasi Hutan di Prigen, Peltu Rudi Ajak Warga Peduli Lingkungan

Selama hampir dua jam, suasana ruang pertemuan kampus dipenuhi tanya jawab yang menunjukkan ketertarikan peserta pada tema. Beberapa mahasiswa baru menyoroti bagaimana figur Srintil dan lingkar budaya ronggeng digambarkan dalam ketegangan antara kebebasan personal dan tekanan sosial.

Panitia HMP Sastra Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian acara akademik 2025. Mereka berharap, forum seperti ini dapat memperluas cara pandang mahasiswa terhadap karya sastra, sekaligus memperkuat tradisi diskusi kritis di lingkungan kampus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi