banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Tajuk Redaksi

Takbir Tenggelam di Balik Dentuman Sound Horeg

×

Takbir Tenggelam di Balik Dentuman Sound Horeg

Sebarkan artikel ini
Foto : Gambar Ilustrasi

Oleh M. Irwani Nasirul Umam
Pimpinan Redaksi Seputardesa.com

 

Malam takbiran dahulu adalah ruang sakral yang sederhana namun penuh makna. Suara takbir berkumandang dari masjid ke masjid, dari mushola kecil hingga jalanan kampung, menyatu dengan tabuhan bedug yang ritmis dan apa adanya. Anak-anak berjalan kaki membawa obor atau lampion, sementara orang dewasa menjaga suasana tetap khidmat. Takbir bukan sekadar tradisi, melainkan ekspresi spiritual yang mengikat kebersamaan dalam kesederhanaan.

Namun kini, wajah takbir keliling mengalami pergeseran yang cukup mencolok. Di banyak daerah, gema takbir mulai “bersaing” dengan dentuman musik keras dari sound system berdaya besar yang populer disebut sebagai sound horeg. Truk-truk dihias meriah, dipenuhi pengeras suara raksasa, memutar musik remix dengan volume yang kadang melampaui batas kewajaran. Takbir masih terdengar, tetapi sering kali tenggelam di antara hiruk-pikuk hiburan.

Baca Juga :  Baliho APBDes dan Penghakiman Instan terhadap Desa

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah takbir keliling masih menjadi ruang spiritual, atau telah bergeser menjadi sekadar ajang euforia? Di satu sisi, tidak bisa dipungkiri bahwa generasi muda mencari cara baru untuk mengekspresikan kegembiraan menyambut Hari Raya. Kreativitas dan semangat kebersamaan tetap terlihat. Namun di sisi lain, esensi takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Tuhan perlahan tereduksi oleh dominasi hiburan.

Perubahan ini bukan semata soal “benar” atau “salah”, melainkan soal keseimbangan. Tradisi memang hidup dan berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai inti seharusnya tidak hilang. Ketika suara takbir justru kalah oleh dentuman musik, ada yang perlu direnungkan kembali: apakah kita masih merayakan kemenangan spiritual, atau hanya larut dalam pesta sesaat?

Baca Juga :  Pengawas BUMDes dari Lingkaran Keluarga Perangkat Desa: Pelanggaran Etika dan Risiko Hukum

Mungkin yang dibutuhkan bukan menolak modernitas, melainkan menata ulang arah. Sound system bisa saja tetap ada, kreativitas tetap berjalan, tetapi dengan porsi yang tidak menghilangkan ruh utama malam takbiran. Takbir seharusnya tetap menjadi pusat, bukan sekadar pelengkap.

Pada akhirnya, malam takbiran adalah cermin dari bagaimana kita memaknai kemenangan setelah sebulan berpuasa. Di antara takbir dan sound horeg, kita dihadapkan pada pilihan: menjaga makna, atau membiarkannya larut dalam kebisingan zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa