SeputarDesa.com, Lombok – Suasana Bandara Internasional Lombok (BIL), Nusa Tenggara Barat, mendadak berubah mencekam pada Jumat (13/02/2026). Ratusan penumpang tujuan Surabaya dibuat naik pitam lantaran maskapai Super Air Jet mendadak “bisu” terkait keterlambatan jadwal penerbangan yang mencapai 7 jam lamanya.
Delay Berjamaah Tanpa Kejelasan
Seharusnya, burung besi tersebut lepas landas pukul 16.00 WITA. Namun, tanpa alasan yang jelas, jadwal mundur ke pukul 17.00 WITA, lalu molor lagi hingga 3 jam berikutnya. Ironisnya, hingga jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WITA, tak ada satu pun batang hidung pihak maskapai yang memberikan klarifikasi.
Puncaknya, para penumpang yang sudah kelelahan dan emosi mencoba menggeruduk manajemen. Nama Firdaus, yang disebut-sebut sebagai manajer di lapangan, mendadak jadi sasaran kekecewaan. Bukannya memberi solusi, Firdaus justru terlihat bingung dan tidak mampu memberikan penjelasan di hadapan ratusan orang yang telantar.
Manajer dan Crew Gak Nyambung?
Kejanggalan semakin menjadi saat tim kru Super Air Jet yang baru datang pukul 20.00 WITA justru tampak “asing” bagi manajernya sendiri. Firdaus dan kru lama seolah tidak tahu-menahu soal kehadiran tim baru ini. Ketidaksingkronan internal ini sontak memicu pertanyaan besar bagi penumpang: “Ini maskapai profesional atau amatiran?“
“Kami punya kepentingan masing-masing! Ada yang sudah pesan tiket kereta di Surabaya dan sekarang hangus gara-gara delay tanpa kejelasan ini. Siapa yang mau tanggung jawab?” teriak salah satu penumpang yang emosinya sudah di ubun-ubun.
Kompensasi Jadi Teka-Teki
Meski penumpang menuntut hak kompensasi sesuai aturan penerbangan, pihak kru tetap saja memberikan jawaban yang berbelit-belit. Penantian panjang nan melelahkan itu baru berakhir saat pesawat akhirnya diberangkatkan sekitar pukul 23.00 WITA.
Insiden ini menjadi catatan kelam pelayanan transportasi udara di awal tahun 2026. Profesionalitas kru dan manajemen Super Air Jet di Bandara Lombok kini dipertanyakan besar-besaran oleh publik. Jangan sampai, jargon “muda dan kreatif” hanya jadi bungkus, sementara pelayanan di lapangan justru bikin rakyat “elus dada”.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














