banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Opini

Pancasila, Islam, dan Kearifan Lokal Tuban: Merawat Indonesia dari Daerah

×

Pancasila, Islam, dan Kearifan Lokal Tuban: Merawat Indonesia dari Daerah

Sebarkan artikel ini
Dr. H. Miyadi, S.Ag., M.M. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban

Oleh: Dr. H. Miyadi, S.Ag., M.M.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban
Fraksi PKB

 

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momentum ini bukan sekadar mengingat perjalanan sejarah bangsa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali bagaimana Pancasila kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi umat Islam, Pancasila tidak perlu ditempatkan sebagai sesuatu yang berhadapan dengan agama. Sebaliknya, nilai-nilai Pancasila memiliki titik temu yang kuat dengan ajaran Islam tentang ketauhidan, kemanusiaan, persaudaraan, musyawarah, keadilan dan kemaslahatan.

Lebih dari itu, nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama tumbuh dalam kehidupan masyarakat Nusantara, termasuk di Kabupaten Tuban. Karena itu, membicarakan Pancasila dari Tuban berarti juga membicarakan kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pancasila yang Hidup dalam Tradisi Masyarakat

Pancasila akan menjadi kuat apabila tidak berhenti sebagai rumusan yang dihafalkan, tetapi hidup dalam kebiasaan masyarakat.

Di Tuban, semangat kebersamaan dapat kita temukan dalam kehidupan masyarakat desa. Tradisi gotong royong, membantu tetangga yang sedang memiliki hajatan atau mengalami kesusahan, musyawarah di lingkungan masyarakat, hingga kepedulian terhadap sesama merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Kearifan semacam ini sesungguhnya merupakan bentuk nyata dari nilai Pancasila.

Masyarakat tidak selalu membutuhkan istilah yang rumit untuk menjalankan Pancasila. Ketika warga bersama-sama memperbaiki jalan lingkungan, membantu tetangga yang terkena musibah, menjaga kebersihan desa atau bermusyawarah menyelesaikan persoalan bersama, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan nilai persatuan, kemanusiaan dan gotong royong.

Di sinilah pentingnya menjaga kearifan lokal.

Modernisasi boleh berkembang, teknologi boleh berubah, tetapi nilai-nilai baik yang menjadi karakter masyarakat jangan sampai hilang.

Tuban, Islam dan Tradisi Pesantren

Tuban memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kawasan penting dalam perkembangan Islam di Jawa.

Nama Sunan Bonang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ingatan sejarah dan kebudayaan masyarakat Tuban. Jejak dakwahnya mengajarkan bahwa penyebaran nilai-nilai Islam dapat dilakukan dengan pendekatan budaya, kearifan dan kebijaksanaan.

Baca Juga :  Keluarga sebagai Fondasi Kehidupan dan Refleksi Kebersamaan di Momentum Idulfitri 1447 H

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran penting: agama tidak harus hadir dengan meniadakan kebudayaan masyarakat. Justru nilai agama dapat tumbuh dengan menghargai tradisi yang baik dan mengarahkannya kepada kemaslahatan.

Tradisi pesantren di Tuban juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlak, kedisiplinan, kemandirian dan kepedulian sosial.

Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan kebangsaan.

Seorang santri tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan agama, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Karena itu, semangat hubbul wathan, kecintaan terhadap tanah air, perlu terus ditanamkan kepada generasi muda bersama dengan nilai keagamaan.

Kearifan Pesisir: Belajar dari Kehidupan Nelayan

Tuban juga memiliki wajah sebagai daerah pesisir.

Kehidupan masyarakat nelayan mengajarkan nilai ketangguhan, keberanian, kebersamaan dan kemampuan membaca perubahan alam. Laut mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Keselamatan dan keberhasilan sering kali membutuhkan kerja sama.

Nilai tersebut merupakan pelajaran sosial yang sangat berharga.

Dalam kehidupan masyarakat pesisir, semangat saling membantu dan berbagi menjadi bagian penting dalam menghadapi ketidakpastian. Dari sana kita dapat belajar bahwa kehidupan berbangsa juga membutuhkan solidaritas.

Tidak semua persoalan dapat diselesaikan sendiri. Ada saatnya kita harus saling membantu, saling menguatkan dan berbagi kesempatan.

Semangat itulah yang perlu dibawa dalam pembangunan daerah.

Kearifan Lokal dan Keadilan Sosial

Kearifan lokal tidak boleh hanya dipahami sebagai tradisi atau seremoni kebudayaan. Ia juga harus menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Tuban memiliki petani, nelayan, pedagang, pelaku UMKM, pekerja, pengrajin, santri, pelaku ekonomi kreatif dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Mereka adalah bagian penting dari kekuatan daerah.

Karena itu, pembangunan harus memberikan ruang yang adil bagi masyarakat untuk berkembang. Modernisasi dan investasi harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap masyarakat lokal.

Baca Juga :  Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Bersama

Kemajuan ekonomi harus membuka kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat ekonomi masyarakat.

Inilah salah satu bentuk konkret pengamalan sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Islam Mengajarkan Kemaslahatan

Dalam perspektif Islam, kehidupan bersama harus diarahkan kepada kemaslahatan.

Kemaslahatan berarti menghadirkan kebaikan dan mencegah kerusakan. Prinsip ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan penyelenggaraan pemerintahan.

Kebijakan publik harus membawa manfaat bagi masyarakat. Anggaran harus dikelola secara amanah. Pelayanan publik harus diberikan secara adil. Kritik harus dihargai sebagai bagian dari proses memperbaiki kebijakan.

Bagi seorang Muslim, jabatan pada hakikatnya adalah amanah.

Karena itu, semakin besar kewenangan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya kepada masyarakat.

Pancasila dan nilai-nilai Islam bertemu dalam satu hal penting: kekuasaan harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan untuk kepentingan pribadi.

Ukhuwah untuk Menjaga Tuban

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, Tuban membutuhkan semangat persaudaraan yang kuat.

Perbedaan pilihan politik jangan sampai memutus hubungan persaudaraan. Perbedaan organisasi jangan sampai melahirkan permusuhan. Perbedaan pandangan keagamaan harus disikapi dengan kedewasaan.

Islam mengajarkan ukhuwah. Pancasila mengajarkan persatuan.

Keduanya dapat menjadi kekuatan untuk menjaga masyarakat Tuban tetap guyub.

Masyarakat Tuban memiliki tradisi sosial yang panjang dalam menjaga hubungan antarsesama. Semangat inilah yang harus terus dirawat di tengah berkembangnya media sosial, ketika perbedaan pendapat dapat dengan mudah berubah menjadi konflik hanya karena komunikasi yang tidak bijak.

Merawat Tradisi, Menyambut Masa Depan

Kearifan lokal bukan berarti menolak perubahan.

Justru masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menerima kemajuan tanpa kehilangan jati dirinya.

Generasi muda Tuban harus mampu menguasai teknologi, memiliki pendidikan yang baik dan terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap mengenal akar budayanya.

Baca Juga :  Dari UMK ke UMB, Sensus Ekonomi 2026 Merekam Siapa Bertahan dan Siapa Tumbang

Mereka harus mengetahui bahwa di balik perkembangan zaman terdapat nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu: gotong royong, unggah-ungguh, menghormati orang tua, menghargai guru, peduli kepada tetangga dan menjaga kerukunan.

Nilai-nilai tersebut merupakan modal karakter yang tidak boleh hilang.

Dari Tuban untuk Indonesia

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 semestinya menjadi momentum untuk melihat kembali bahwa menjaga Indonesia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia dapat dimulai dari desa.

Dari keluarga.

Dari pesantren.

Dari sekolah.

Dari lingkungan tempat kita tinggal.

Dan dari kebiasaan sederhana untuk saling menghormati dan membantu.

Tuban memiliki kekayaan sejarah, agama dan budaya yang dapat menjadi sumber kekuatan dalam membangun masyarakat yang maju sekaligus berkarakter.

Islam memberikan landasan akhlak dan kemaslahatan. Pancasila menjadi titik temu kehidupan kebangsaan. Sementara kearifan lokal memberikan akar yang membuat nilai-nilai tersebut tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Ketiganya tidak harus dipertentangkan.

Justru dari perpaduan antara iman, kebangsaan dan kearifan lokal, kita dapat membangun masyarakat Tuban yang religius, guyub, berkeadilan dan terbuka terhadap kemajuan.

Pada akhirnya, kesaktian Pancasila tidak hanya terletak pada kemampuannya bertahan sebagai dasar negara, tetapi juga pada kemampuan kita untuk terus menghidupkan nilai-nilainya dalam menghadapi perubahan zaman.

Merawat Pancasila berarti merawat persatuan.
Merawat persatuan berarti merawat persaudaraan.
Dan merawat persaudaraan berarti menjaga Indonesia.

Dari Tuban, mari kita rawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu, kita kuatkan semangat keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, dan kita teguhkan komitmen kebangsaan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026.

Dengan iman kita membangun akhlak, dengan Pancasila kita menjaga persatuan, dan dengan kearifan lokal kita memperkuat jati diri bangsa.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

Penulis: Irwani UmamEditor: Irwani Umam

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi