Oleh: H. Sholikin
Anggota DPRD Kabupaten Grobogan Fraksi NasDem
SeputarDesa.com — Setiap 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita hanya mengingat tanggalnya, atau benar-benar memahami pelajaran yang ditinggalkan oleh sejarah?
Tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” seharusnya tidak berhenti sebagai rangkaian kata dalam upacara. Tema tersebut perlu diterjemahkan menjadi kesadaran bahwa persatuan bangsa adalah sesuatu yang harus dirawat setiap hari.
Di sinilah pesan “Jas Merah—Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” menemukan relevansinya.
Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Sejarah adalah cermin. Dari sejarah kita dapat melihat bagaimana sebuah bangsa menghadapi konflik, bagaimana perbedaan politik dapat berkembang menjadi pertentangan yang tajam, dan betapa mahal harga yang harus dibayar ketika persatuan serta kemanusiaan tidak lagi menjadi pijakan bersama.
30 September 1965: Sejarah yang Tidak Boleh Disederhanakan
Peristiwa yang berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Sejumlah perwira Angkatan Darat menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi krisis politik nasional dan membawa perubahan besar terhadap arah perjalanan Indonesia.
Dalam sejarah Indonesia, peristiwa itu dikenal luas dengan istilah G30S, sementara pada masa Orde Baru narasi resminya menggunakan istilah G30S/PKI. Dalam perkembangan kajian sejarah, terdapat perdebatan mengenai aktor, motif, dan rangkaian peristiwa yang melatarbelakanginya.
Perbedaan penafsiran tersebut justru menunjukkan bahwa sejarah harus dipelajari dengan sikap dewasa. Kita tidak boleh menghapus fakta, tetapi juga tidak semestinya menyederhanakan sejarah yang kompleks hanya menjadi slogan.
Yang jelas, peristiwa tersebut meninggalkan dampak politik dan kemanusiaan yang panjang bagi bangsa Indonesia.
Karena itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak membuat kita berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang paling benar dalam perdebatan sejarah. Yang jauh lebih penting adalah mengambil pelajaran: jangan sampai konflik politik kembali berkembang menjadi kekerasan dan mengorbankan kemanusiaan.
Jas Merah Bukan Ajakan untuk Mewariskan Kebencian
Mengingat sejarah bukan berarti memelihara dendam.
Sebaliknya, sejarah harus menjadi jalan untuk memahami masa lalu secara lebih bijaksana.
Generasi hari ini tidak mengalami langsung situasi politik 1965. Mereka lahir jauh setelah peristiwa itu terjadi. Karena itu, tugas kita adalah memberikan pemahaman sejarah secara bertanggung jawab, bukan mewariskan kebencian antarkelompok.
Jika sejarah hanya digunakan untuk membangun permusuhan, maka kita gagal mengambil pelajaran darinya.
Namun jika sejarah digunakan untuk memperkuat kesadaran kebangsaan, menghargai korban, menolak kekerasan politik, dan menjaga kehidupan demokrasi, maka sejarah benar-benar memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Jas Merah berarti tidak melupakan. Tetapi tidak melupakan juga berarti tidak mengulangi.
Pancasila sebagai Titik Temu Bangsa
Indonesia bukan negara yang dibangun dari satu suku, satu budaya, atau satu latar belakang keyakinan. Indonesia lahir dari keberagaman.
Karena itu, Pancasila memiliki posisi penting sebagai titik temu dalam kehidupan berbangsa.
Pancasila memberikan ruang bagi masyarakat Indonesia untuk hidup bersama dalam perbedaan. Ia mengajarkan bahwa kehidupan kebangsaan membutuhkan penghormatan terhadap Tuhan, martabat manusia, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Nilai tersebut harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama.
Pancasila tidak cukup dihafalkan. Pancasila harus terlihat dalam cara kita memperlakukan tetangga, dalam cara pemerintah melayani masyarakat, dalam cara pejabat menggunakan kewenangan, dalam cara masyarakat menyampaikan kritik, dan dalam cara kita menyelesaikan perbedaan.
Jika kita berbicara tentang persatuan tetapi masih mudah memusuhi orang yang berbeda pilihan, maka ada nilai yang belum selesai kita amalkan.
Jika kita berbicara tentang keadilan tetapi masih membiarkan ketimpangan, maka ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dan jika kita berbicara tentang kemanusiaan tetapi mudah menyebarkan fitnah dan kebencian, maka nilai Pancasila belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan kita.
Aswaja Mengajarkan Jalan Tengah
Dalam perspektif Islam Ahlussunnah wal Jamaah, kehidupan bersama membutuhkan sikap yang tidak berlebihan dan tidak pula mengabaikan prinsip.
Ada nilai tawassuth, yaitu mengambil jalan tengah; tawazun, menjaga keseimbangan; tasamuh, menghormati perbedaan; dan i’tidal, berlaku adil.
Nilai-nilai tersebut penting dalam kehidupan bangsa yang majemuk.
Perbedaan keyakinan tidak harus melahirkan permusuhan. Perbedaan pandangan politik tidak harus memutus silaturahmi. Perbedaan kepentingan tidak harus berakhir dengan saling menjatuhkan.
Justru di tengah perbedaan itulah kedewasaan diuji.
Islam juga mengajarkan pentingnya tabayyun. Ketika menerima sebuah informasi, kita tidak boleh terburu-buru mempercayainya sebelum mengetahui kebenarannya.
Prinsip tersebut semakin penting pada zaman media sosial.
Hari ini, sebuah potongan video dapat memicu kemarahan. Sebuah judul yang provokatif dapat menyulut perdebatan. Sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar ke ribuan orang dalam waktu singkat.
Karena itu, menjaga persatuan pada zaman sekarang juga berarti menjaga lisan dan jari kita.
Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang berbeda adalah musuh.
Ukhuwah Harus Menjadi Kekuatan Bangsa
Dalam tradisi Aswaja, kita mengenal semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
Ukhuwah Islamiyah menguatkan persaudaraan sesama muslim. Ukhuwah wathaniyah mengikat kita sebagai sesama anak bangsa. Sedangkan ukhuwah insaniyah mengingatkan bahwa kita adalah sesama manusia.
Ketiganya harus berjalan bersama.
Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi tetap bertetangga.
Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap bersaudara.
Kita boleh mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi tetap menjaga etika dan persatuan.
Demokrasi membutuhkan perbedaan. Tetapi demokrasi juga membutuhkan kedewasaan dalam mengelola perbedaan.
Inilah salah satu pelajaran penting yang dapat kita tarik dari sejarah politik Indonesia.
Keadilan Tidak Boleh Berhenti sebagai Slogan
Tema Hari Kesaktian Pancasila 2026 juga membawa pesan tentang Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan wilayah dan pemerintahan. Kedaulatan juga menyangkut kemampuan bangsa menentukan masa depannya dengan berpijak pada kepentingan rakyat.
Sementara keadilan harus dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Keadilan berarti masyarakat memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, infrastruktur, pekerjaan, perlindungan hukum, dan kesempatan mengembangkan potensi ekonominya.
Dalam konteks daerah, pembangunan desa tidak boleh dipandang sebagai urusan pinggiran. Desa merupakan bagian penting dari wajah Indonesia.
Potensi pertanian, UMKM, ekonomi lokal, sumber daya manusia, dan berbagai kekuatan masyarakat desa harus terus dikembangkan.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Grobogan, saya melihat bahwa pembangunan daerah harus terus diarahkan pada kepentingan masyarakat luas. Kebijakan publik harus memiliki manfaat yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan Biarkan Sejarah Berulang dalam Bentuk Berbeda
Zaman telah berubah.
Ancaman terhadap persatuan bangsa mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk konflik seperti masa lalu. Hari ini, ancaman dapat muncul melalui polarisasi sosial, disinformasi, ujaran kebencian, fanatisme kelompok, hingga pertentangan politik yang tidak terkendali.
Karena itu, semangat menjaga Pancasila juga harus mengikuti tantangan zaman.
Kita membutuhkan masyarakat yang kritis tetapi tidak mudah terprovokasi.
Kita membutuhkan generasi muda yang berani menyampaikan pendapat tetapi tetap menghormati orang lain.
Kita membutuhkan pemerintah yang kuat tetapi tetap terbuka terhadap kritik.
Dan kita membutuhkan masyarakat yang religius tetapi tetap mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Belajar dari Masa Lalu, Menatap Masa Depan
Hari Kesaktian Pancasila seharusnya menjadi ruang untuk melakukan introspeksi.
Sejarah 1965 mengingatkan bahwa ketika ketegangan politik mencapai titik ekstrem, dampaknya dapat dirasakan jauh melampaui generasi yang mengalaminya.
Karena itu, tugas kita bukan menghidupkan kembali pertentangan masa lalu, melainkan memastikan bahwa bangsa ini tidak kembali menempuh jalan kekerasan.
Kita harus mampu menghormati sejarah sekaligus membangun masa depan.
Kita harus mampu mengenang korban tanpa menanamkan kebencian.
Kita harus mampu membicarakan sejarah tanpa memecah persaudaraan.
Dan kita harus mampu berbeda tanpa kehilangan Indonesia sebagai rumah bersama.
Jas Merah—jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Tetapi pesan itu harus kita lanjutkan dengan satu kesadaran: sejarah bukan untuk diwariskan sebagai dendam, melainkan sebagai pelajaran.
Dari sejarah kita belajar pentingnya persatuan.
Dari Pancasila kita belajar tentang kehidupan bersama.
Dari ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah kita belajar tentang keseimbangan, toleransi, keadilan, dan kemaslahatan.
Ketiganya dapat menjadi bekal moral untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih dewasa.
Pada akhirnya, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak akan lahir hanya dari slogan. Ia membutuhkan kerja nyata, pemerintahan yang amanah, masyarakat yang peduli, serta generasi yang memahami sejarah dan menghargai persatuan.
Mari menjadikan 1 Oktober 2026 bukan hanya sebagai tanggal dalam kalender nasional, tetapi sebagai momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang telah kita lakukan untuk menjaga persatuan bangsa?
Sebab mempertahankan Indonesia bukan hanya tugas para pahlawan di masa lalu. Menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita hari ini dan generasi yang akan datang.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026.
“Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Jas Merah. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















