Penghargaan diserahkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak kepada Sekda Sidoarjo, Fenny Apridawati pada Kamis siang 13 November di Surabaya. Ia hadir mewakili Bupati Sidoarjo Subandi.
Fenny mengatakan pemerintah daerah terus mendorong setiap organisasi perangkat daerah menghasilkan inovasi. Menurutnya tuntutan layanan publik saat ini bergerak cepat sehingga pemerintah perlu menghadirkan solusi yang responsif dan mudah diakses.
Ia menilai inovasi tidak selalu berbentuk teknologi digital. Inovasi dapat muncul dari kebutuhan sederhana, misalnya metode belajar aksara Jawa melalui permainan yang dikembangkan sekolah dasar di Porong.
Fenny juga menyebut perkembangan inovasi di Sidoarjo menunjukkan kemampuan aparatur sipil negara dalam merancang program yang relevan. Ia mengapresiasi kerja lintas sektor yang menjadi dasar dari banyak inovasi tersebut.
Kepala Disdukcapil Sidoarjo, Reddy Kusuma, menjelaskan inovasi Duta Hatiku difokuskan pada pelayanan dokumen kependudukan bagi warga terdampak bencana. Tim akan mendatangi lokasi bencana dan menerbitkan kembali dokumen yang hilang. Layanan ini mampu menghasilkan beberapa dokumen sekaligus dalam satu kali pelayanan.
Sementara itu guru SDN Juwetkenongo Porong, Rosela Fidaus, menjelaskan bahwa Pandawa dibuat untuk mempermudah pembelajaran aksara Jawa. Media tersebut menggabungkan permainan, lagu, dan video agar siswa lebih mudah memahami materi.
Bappeda Sidoarjo juga menunjukkan inovasinya melalui Setia, sistem berbasis web yang mengelola data riset dan inovasi daerah. Platform ini memfasilitasi pengajuan kajian, pelaporan inovasi, hingga penyelenggaraan Kompetisi Inovasi Sidoarjo. Seluruh data dihimpun dalam satu basis data yang dapat diakses publik melalui situs resmi.