banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
BeritaKabar Desa

Tradisi Kupatan di Papanrejo Tetap Lestari, Warga RT 03 RW 01 Krajan Jaga Warisan Budaya

×

Tradisi Kupatan di Papanrejo Tetap Lestari, Warga RT 03 RW 01 Krajan Jaga Warisan Budaya

Sebarkan artikel ini

SepuatarDesa.com, Grobogan – Tradisi kupatan yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa masih terus dilestarikan oleh warga RT 03 RW 01 Dusun Krajan, Desa Papanrejo, Kecamatan Gubuk, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Tradisi ini dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya pada tanggal 7 atau 8 Syawal, sebagai bagian dari perayaan Lebaran Ketupat.

Kupatan (Lebaran Ketupat) dirayakan oleh masyarakat Muslim, khususnya di wilayah Jawa dan Madura, sebagai bentuk rasa syukur setelah menunaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Pada tahun ini, kegiatan kupatan yang jatuh pada Sabtu, 28 Maret 2026 berlangsung dengan penuh kebersamaan dan kekhidmatan di lingkungan RT 03 RW 01 Dusun Krajan.

Baca Juga :  Rayakan Maulid Nabi, Blater dan Ulama Berdampingan dikediaman Tokoh blater Karangpenang, Basrohil

Warga setempat secara turun-temurun menjaga tradisi ini dengan saling berbagi ketupat lengkap dengan lauk-pauk, serta menggelar doa bersama guna mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Selain sebagai tradisi, kupatan juga mengandung filosofi mendalam dalam budaya Jawa. Kata “kupat” diyakini berasal dari istilah “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Hal ini menjadi simbol permohonan maaf antar sesama setelah Hari Raya Idulfitri. Anyaman janur pada ketupat melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang berwarna putih mencerminkan hati yang bersih setelah saling memaafkan.

Bentuk ketupat yang sederhana juga mengajarkan nilai kejujuran, kesederhanaan, serta kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Filosofi tersebut menjadi pengingat penting bagi warga untuk terus menjaga hubungan harmonis antar sesama.

Baca Juga :  Air Bersih Segera Mengalir, TMMD 127 Bangun Sumur Bor untuk Warga Wonosari

Kegiatan kupatan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat nilai gotong royong. Sejak pagi hari, warga tampak antusias mempersiapkan berbagai keperluan acara hingga pelaksanaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Anggota DPRD Kabupaten Grobogan, H. Noer Solikin, menyampaikan apresiasinya terhadap warga yang masih konsisten melestarikan tradisi kupatan beserta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

“Tradisi kupatan ini bukan hanya sekadar budaya, tetapi juga sarat filosofi kehidupan tentang saling memaafkan dan mempererat persaudaraan. Saya sangat mengapresiasi warga yang terus menjaga dan melestarikannya,” ujar H. Noer Solikin.

Ia berharap tradisi ini dapat terus diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Menurutnya, keberlangsungan tradisi lokal sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat.

Baca Juga :  Kinerja Akhir Tahun 2025 Polresta Sidoarjo Positif, Kriminalitas Turun dan Pengungkapan Narkoba Meningkat

Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi kupatan di RT 03 RW 01 Dusun Krajan, Desa Papanrejo, diharapkan tetap menjadi simbol persatuan sekaligus kekuatan budaya lokal di Kabupaten Grobogan.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa